Ketahanan Pangan MWA Bogor

Setiap hari, ratusan ton makanan layak konsumsi dibuang begitu saja di industri HORECA dan manufaktur pangan.

Setiap hari, petani lokal berjuang dengan harga yang tidak stabil dan akses pasar yang terbatas.

Setiap hari, anak-anak di daerah mengalami stunting karena ketidakstabilan pasokan pangan dan volatilitas harga.

Tiga fenomena ini tampak terpisah. Namun, sebenarnya mereka terhubung dalam satu ekosistem.

Pemerintah daerah memiliki target ambisius: menurunkan stunting, meningkatkan ketahanan pangan, menstabilkan harga pangan.

Namun, sumber daya pemerintah terbatas. APBD terbatas. Kapasitas SDM terbatas.

Pemerintah daerah menyadari bahwa sektor swasta memiliki sumber daya yang besar. Jaringan yang luas. Keahlian operasional yang mendalam.

Namun, bagaimana cara menghubungkan ketiga fenomena ini? Bagaimana cara mengajak sektor swasta untuk menjadi bagian dari solusi?

Itulah pertanyaan yang ingin kita diskusikan pada artikel ini.

Cara Anda Menyimak Stuka Episode 2

untuk mempercepat pemahaman Anda, kami mendesain materi Stuka bisa Anda simak sampai selesai dalam versi video dan audio.

Kami merekam Stuka beserta slide, jika Anda ingin simak Stuka dalam versi video.

Anda bisa simak Stuka versi video via Youtube, sebagaimana yang kami lampirkan di bawah.

Jika Anda ingin simak Stuka sambil melakukan aktivitas lain, seperti memasak, menyetir, membersihkan rumah, dan semisal, maka Anda bisa simak via audio.

Anda bisa simak Stuka versi audio via spotify, sebagaimana yang kami lampirkan tombolnya di bawah.

Anda boleh membagikan halaman ini kepada orang yang sepertinya membutuhkan materi ini.

Semoga bermanfaat 🙂

Stuka Versi Video

Stuka Versi Audio

Bagian 1: Kebocoran Ekonomi yang Tidak Disadari

Add Your Heading Text Here

Data menunjukkan bahwa komposisi timbulan sampah didominasi secara ekstrem oleh food waste (sampah makanan) yang mencapai 40 persen, sekitar 319,72 ton per hari.

Dari mana sampah makanan ini berasal?

Sisa konsumsi rumah tangga. Namun, kontribusi yang lebih signifikan adalah dari inefisiensi industri HORECA (Hotel, Restoran, Kafe).

Bayangkan: Setiap hari, ratusan ton makanan layak konsumsi dibuang begitu saja. Makanan yang seharusnya bisa dimakan. Makanan yang seharusnya bisa diberikan kepada yang membutuhkan.

Biaya pembuangan sampah ini sangat besar. Biaya transportasi. Biaya pengelolaan di TPA. Biaya penanganan dampak lingkungan.

Namun, ada perspektif lain yang lebih menyakitkan.

Dari perspektif gizi, ini adalah kebocoran nutrisi yang luar biasa.

Kasus Kedua: Sampah Organik Bernilai di Berbagai Daerah

Banyak daerah menghadapi tantangan yang serupa, dengan data yang menunjukkan pola yang sama.

Timbulan sampah terus meningkat. Dua jenis sampah organik penyumbang terbesar adalah sisa makanan dan sisa sayuran/dapur.

Ini menghasilkan total lebih dari 35 persen sampah organik bernilai ekonomi yang membusuk begitu saja jika tidak diolah.

Mari kita hitung. Jika sebuah daerah menghasilkan 1.324 ton sampah per hari, maka 463 ton sampah organik per hari adalah makanan yang bernilai.

Jika diasumsikan 70 persen dari sampah organik ini adalah makanan yang masih layak konsumsi, itu berarti 324 ton makanan layak konsumsi dibuang setiap hari.

Dalam satu tahun, itu adalah 118.260 ton makanan layak konsumsi yang dibuang.

Jika kita konversikan ke kalori, itu adalah miliaran kalori yang hilang setiap tahunnya. Kalori yang bisa mencegah stunting. Kalori yang bisa menyelamatkan nyawa anak-anak.

Kasus Ketiga: Keterlibatan Korporat yang Belum Optimal

Banyak daerah telah mengambil langkah untuk melibatkan sektor swasta.

Data menunjukkan bahwa telah ada pelibatan puluhan perusahaan sebagai mitra dalam program penanganan stunting.

Ini adalah langkah positif. Perusahaan-perusahaan ini menunjukkan komitmen terhadap penanganan stunting.

Namun, kontribusi ini masih perlu ditingkatkan.

Saat ini, kontribusi perusahaan masih berwujud donatur. Perusahaan memberikan uang atau barang. Kemudian, program selesai.

Namun, apa yang tidak terlihat adalah potensi yang belum dimanfaatkan.

Perusahaan-perusahaan ini memiliki akses ke rantai pasok pangan. Mereka memiliki jaringan distribusi. Mereka memiliki keahlian operasional.

Jika potensi ini bisa dimanfaatkan, dampak program bisa jauh lebih besar.

Bagian 2: Akar Masalah—Dua Sistem yang Terpisah

Sistem Pertama: Sistem Operasional Korporat

Perusahaan menjalankan operasional dengan fokus pada efisiensi dan profitabilitas.

Dalam konteks industri HORECA atau manufaktur pangan, efisiensi berarti meminimalkan biaya operasional.

Namun, ada biaya yang sering tidak terlihat: biaya limbah organik.

Limbah organik dihasilkan dari berbagai tahap operasional: persiapan bahan baku, proses produksi, penyimpanan, distribusi.

Biaya limbah organik mencakup: biaya pengumpulan, biaya transportasi, biaya pengelolaan di TPA, biaya penanganan dampak lingkungan.

Biaya ini terus meningkat setiap tahunnya.

Namun, perusahaan sering menganggap biaya ini sebagai biaya tetap yang tidak bisa dihindari.

Sistem Kedua: Sistem Perencanaan Pangan dan Gizi Daerah

Pemerintah daerah menjalankan perencanaan pangan dan gizi melalui Rencana Aksi Daerah Pangan dan Gizi (RAD-PG).

RAD-PG adalah dokumen perencanaan yang merancang strategi penanganan pangan dan gizi di tingkat daerah selama periode tertentu (biasanya 5 tahun).

RAD-PG mencakup analisis situasi, identifikasi masalah, perumusan strategi, dan perencanaan aksi.

Namun, RAD-PG sering hanya melibatkan sektor pemerintah. Sektor swasta sering tidak terlibat dalam proses perencanaan.

Akibatnya, strategi yang dirancang dalam RAD-PG sering tidak mempertimbangkan potensi sektor swasta.

Insight: Dua Sistem yang Seharusnya Terintegrasi

Namun, ada insight yang sering terlewatkan.

Kedua sistem ini—sistem operasional korporat dan sistem perencanaan pangan daerah—seharusnya terintegrasi.

Mengapa?

Karena akar masalah stunting di daerah sering kali adalah ketidakstabilan pasokan pangan dan volatilitas harga pangan.

Ketidakstabilan pasokan pangan juga adalah akar masalah inefisiensi rantai pasok korporat.

Jika perusahaan bisa menstabilkan pasokan pangan lokal, perusahaan bisa mengurangi biaya operasional (karena pasokan stabil dan harga tidak volatil).

Pada saat yang sama, masyarakat lokal bisa mendapatkan manfaat dari pasokan pangan yang stabil dan harga yang terjangkau.

Ini adalah konsep Creating Shared Value (CSV). Nilai yang diciptakan bersama-sama. Perusahaan untung. Masyarakat juga untung.

Bagian 3: Konsep Creating Shared Value (CSV) dalam Konteks Pangan

Apa Itu Creating Shared Value?

Creating Shared Value adalah pendekatan bisnis di mana perusahaan menciptakan nilai ekonomi dengan cara yang juga menciptakan nilai sosial.

Bukan charity. Bukan filantropi.

Tapi bisnis yang dirancang sedemikian rupa sehingga menguntungkan semua pihak.

Dalam konteks pangan dan gizi, CSV berarti:

Perusahaan menjalankan operasional dengan cara yang juga menyelesaikan masalah gizi di daerah.

Misalnya, perusahaan HORECA mengurangi food waste dengan cara yang juga menyediakan pangan untuk program gizi komunitas.

Atau perusahaan manufaktur pangan berinvestasi pada petani lokal untuk menjamin pasokan bahan baku berkualitas, yang pada saat yang sama meningkatkan pendapatan petani.

Bagaimana CSV Bekerja dalam Praktik?

Mari kita lihat contoh konkret.

Contoh 1: Pengurangan Food Waste di Industri HORECA

Industri HORECA menghasilkan food waste yang besar. Food waste ini adalah limbah yang seharusnya tidak ada.

Namun, dengan pendekatan CSV, food waste bisa dikelola dengan cara yang menciptakan nilai.

Misalnya:

  • Sisa makanan yang masih layak konsumsi dikumpulkan dan diproses menjadi produk yang bisa dijual (misalnya, produk olahan yang bernilai tambah tinggi).
  • Atau sisa makanan dikumpulkan dan diberikan kepada program gizi komunitas dengan cara yang terorganisir dan berkelanjutan.

Dalam kedua kasus ini, perusahaan mengurangi biaya pembuangan limbah. Pada saat yang sama, masyarakat mendapatkan manfaat.

Contoh 2: Investasi pada Petani Lokal

Perusahaan manufaktur pangan membutuhkan bahan baku berkualitas dengan harga stabil.

Namun, petani lokal sering menghadapi tantangan: akses ke teknologi terbatas, akses ke pasar terbatas, risiko produksi tinggi.

Akibatnya, petani lokal tidak bisa menyediakan bahan baku berkualitas dengan harga stabil.

Dengan pendekatan CSV, perusahaan berinvestasi pada petani lokal:

  • Memberikan akses ke teknologi pertanian modern.
  • Memberikan akses ke pasar yang stabil (perusahaan menjamin membeli hasil panen petani dengan harga yang adil).
  • Memberikan pelatihan manajemen usaha.

Hasilnya?

Petani lokal bisa meningkatkan produktivitas dan pendapatan. Perusahaan bisa mendapatkan bahan baku berkualitas dengan harga stabil. Masyarakat lokal bisa mendapatkan manfaat dari peningkatan ekonomi lokal.

Semua pihak menang.

Bagian 4: Peran Pemerintah Daerah dalam Mengidentifikasi Peluang CSV

Mengapa Pemerintah Daerah Harus Mengambil Inisiatif?

Pemerintah daerah memiliki informasi yang komprehensif tentang masalah pangan dan gizi di daerahnya.

Pemerintah daerah juga memiliki informasi tentang perusahaan-perusahaan yang beroperasi di daerahnya.

Dengan informasi ini, pemerintah daerah bisa mengidentifikasi peluang CSV yang konkret.

Pemerintah daerah bisa melihat: Masalah pangan dan gizi apa yang ada di daerah? Perusahaan mana yang beroperasi di daerah? Bagaimana operasional perusahaan ini bisa diselaraskan dengan target penanganan pangan dan gizi?

Dari analisis ini, akan teridentifikasi peluang CSV yang konkret dan feasible.

Bagaimana Pemerintah Daerah Mengintegrasikan CSV ke dalam RAD-PG?​

Integrasi dimulai dari tahap perencanaan.

Saat menyusun RAD-PG, pemerintah daerah mengidentifikasi masalah pangan dan gizi yang ada di daerah.

Kemudian, pemerintah daerah mengidentifikasi perusahaan-perusahaan yang beroperasi di daerah.

Pemerintah daerah menganalisis: Bagaimana operasional perusahaan ini bisa diselaraskan dengan target penanganan pangan dan gizi?

Misalnya:

Masalah: Food waste besar di industri HORECA, sementara ada anak-anak yang mengalami stunting.

Solusi CSV: Industri HORECA mengurangi food waste dengan cara yang juga menyediakan pangan untuk program gizi komunitas.

Integrasi dengan RAD-PG: RAD-PG merencanakan program pengurangan food waste di industri HORECA sebagai salah satu strategi penanganan gizi.

Dengan cara ini, target pemerintah daerah (penanganan stunting) dan target perusahaan (pengurangan biaya limbah) bisa dicapai bersama-sama.

Bagian 5: Tantangan dalam Mengimplementasikan CSV

Tantangan Pertama: Bahasa yang Berbed

Pemerintah daerah berbicara dalam bahasa regulasi, target pembangunan, dan dampak sosial.

Perusahaan berbicara dalam bahasa profitabilitas, ROI, dan efisiensi biaya.

Kedua bahasa ini sering tidak saling memahami.

Akibatnya, komunikasi antara pemerintah daerah dan perusahaan sering tidak efektif.

Pemerintah daerah tidak bisa menjelaskan peluang bisnis yang ada dalam penanganan pangan dan gizi.

Perusahaan tidak bisa melihat bagaimana operasional mereka bisa berkontribusi pada penanganan pangan dan gizi.

Tantangan Kedua: Kompleksitas Orkestrasi Multipihak

Mengintegrasikan CSV ke dalam RAD-PG memerlukan orkestrasi yang kompleks.

Pemerintah daerah harus melibatkan berbagai stakeholder: Dinas Pertanian, Dinas Kesehatan, Dinas Lingkungan, Dinas Perindustrian.

Pemerintah daerah juga harus melibatkan berbagai perusahaan: perusahaan HORECA, perusahaan manufaktur pangan, perusahaan logistik.

Setiap stakeholder memiliki kepentingan yang berbeda. Setiap stakeholder memiliki prioritas yang berbeda.

Mengkoordinasikan semua ini sangat kompleks.

Tanpa fasilitasi yang tepat, orkestrasi ini sering gagal.

Tantangan Ketiga: Fleksibilitas Agenda CSR

Agenda CSR perusahaan sering berubah dari tahun ke tahun.

Prioritas CSR tahun pertama mungkin berbeda dengan tahun kedua, ketiga, keempat, atau kelima.

Namun, RAD-PG adalah dokumen perencanaan dengan indikator kerja yang ditetapkan untuk periode tertentu.

Bagaimana cara mengakomodasi perubahan agenda CSR ini tanpa mengganggu implementasi RAD-PG?

Ini adalah tantangan yang sering tidak dipertimbangkan dalam proses perencanaan

Bagian 6: Solusi Praktis—Mekanisme Fleksibel untuk Integrasi CSV

Langkah Pertama: Pemetaan Potensi Sektor Swasta

Solusi dimulai dari pemetaan yang komprehensif.

Pemerintah daerah memetakan: Perusahaan-perusahaan apa saja yang beroperasi di daerah? Apa operasional mereka? Apa tantangan operasional mereka?

Kemudian, pemerintah daerah menganalisis: Bagaimana operasional perusahaan ini bisa diselaraskan dengan target penanganan pangan dan gizi?

Dari pemetaan ini, akan teridentifikasi peluang CSV yang konkret.

Langkah Kedua: Merancang Matriks Kolaborasi yang Fleksibel

Setelah peluang CSV teridentifikasi, langkah berikutnya adalah merancang matriks kolaborasi.

Matriks ini menunjukkan:

  • Masalah pangan dan gizi apa yang akan ditangani?
  • Perusahaan mana yang akan terlibat?
  • Apa kontribusi perusahaan?
  • Apa manfaat yang akan diterima perusahaan?
  • Bagaimana mekanisme kolaborasi?
  • Bagaimana pengukuran dampak?

Penting: Matriks ini dirancang dengan fleksibilitas. Matriks dapat disesuaikan setiap tahunnya sesuai dengan perubahan prioritas CSR dan RAD-PG.

Ini memastikan bahwa kolaborasi tetap relevan dan berdampak, meskipun ada perubahan agenda.

Dalam praktiknya, matriks ini menjadi dokumen hidup yang diperbarui secara berkala. Bukan dokumen statis yang hanya dibuat sekali di awal periode perencanaan.

Langkah Keempat: Implementasi dan Monitoring Berkelanjutan

Setelah kesepakatan tercapai, langkah berikutnya adalah implementasi.

Implementasi dilakukan sesuai dengan matriks kolaborasi yang telah disepakati.

Monitoring dilakukan secara berkala untuk memastikan bahwa implementasi berjalan sesuai rencana.

Penting: Monitoring juga mencakup evaluasi terhadap perubahan agenda CSR. Jika ada perubahan agenda, matriks kolaborasi dapat disesuaikan melalui proses negosiasi yang sama.

Ini memastikan bahwa kolaborasi tetap fleksibel dan responsif terhadap perubahan.

Dalam konteks ini, Analytical Partner seperti MWA Training & Consulting memiliki peran penting dalam memfasilitasi proses ini.

MWA menyediakan layanan penyusunan RAD-PG yang komprehensif, mulai dari analisis situasi responsif konteks lokal, pemetaan potensi sumber daya lokal, hingga penyusunan matriks aksi terintegrasi. Dengan pendekatan ini, MWA membantu pemerintah daerah mengidentifikasi peluang CSV yang konkret dan feasible.

MWA juga memfasilitasi proses harmonisasi data lintas sektor, sehingga pemerintah daerah dan perusahaan memiliki pemahaman yang sama tentang masalah pangan dan gizi di daerah. Dengan data yang harmonis, proses negosiasi dan kesepakatan menjadi lebih mudah dan menghasilkan kolaborasi yang win-win.

Dalam implementasi, MWA melakukan monitoring berkelanjutan dan memfasilitasi penyesuaian matriks kolaborasi sesuai dengan perubahan agenda CSR. Ini memastikan bahwa kolaborasi tetap relevan, fleksibel, dan berdampak dalam jangka panjang.

Bagian 7: Manfaat Praktis dari Pendekatan CSV

Manfaat untuk Perusahaan

Pengurangan Biaya Operasional

Dengan mengoptimalkan rantai pasok dan mengurangi limbah, perusahaan bisa mengurangi biaya operasional secara signifikan.

Misalnya, industri HORECA bisa mengurangi biaya pembuangan limbah organik dengan cara yang juga menciptakan nilai tambah.

Stabilisasi Pasokan dan Harga

Dengan berinvestasi pada petani lokal, perusahaan bisa mendapatkan pasokan bahan baku yang stabil dengan harga yang tidak volatil.

Ini mengurangi risiko operasional dan meningkatkan predictability bisnis.

Peningkatan Reputasi dan Brand Value

Dengan menjalankan program CSV yang berdampak nyata, perusahaan bisa meningkatkan reputasi dan brand value.

Perusahaan akan dipandang sebagai perusahaan yang bertanggung jawab sosial dan lingkungan.

Manfaat untuk Masyarakat dan Pemerintah Daerah

Penanganan Stunting yang Lebih Efektif

Dengan melibatkan sektor swasta melalui CSV, penanganan stunting bisa lebih efektif.

Sektor swasta membawa sumber daya, keahlian, dan jaringan yang bisa mempercepat penanganan stunting.

Peningkatan Ekonomi Lokal

Dengan berinvestasi pada petani lokal dan UMKM, sektor swasta bisa meningkatkan ekonomi lokal.

Petani lokal bisa meningkatkan pendapatan. UMKM bisa berkembang.

Keberlanjutan Program

Dengan mengintegrasikan CSV ke dalam RAD-PG, program penanganan pangan dan gizi bisa berkelanjutan.

Program tidak hanya bergantung pada anggaran pemerintah. Tapi juga didukung oleh investasi sektor swasta.

Bagian 8: Peran Analytical Partner dalam Memfasilitasi CSV

Mengapa Fasilitasi Pihak Ketiga Diperlukan?

Mengintegrasikan CSV ke dalam RAD-PG memerlukan fasilitasi yang komprehensif.

 

Fasilitasi ini memerlukan keahlian dalam berbagai bidang: perencanaan pemerintah, manajemen bisnis, komunikasi multipihak.

 

Pemerintah daerah sering tidak memiliki keahlian ini.

 

Perusahaan juga sering tidak memiliki keahlian ini.

 

Oleh karena itu, diperlukan pihak ketiga yang bisa memfasilitasi.

Bagaimana Analytical Partner Memfasilitasi?

Langkah Pertama: Pemetaan Komprehensif

Analytical Partner melakukan pemetaan komprehensif tentang: masalah pangan dan gizi di daerah, potensi sektor swasta, peluang CSV yang ada.

Dari pemetaan ini, Analytical Partner mengidentifikasi peluang CSV yang konkret dan feasible.

Langkah Kedua: Merancang Matriks Kolaborasi

Analytical Partner merancang matriks kolaborasi yang menunjukkan: masalah apa yang akan ditangani, perusahaan mana yang terlibat, kontribusi masing-masing pihak, manfaat yang akan diterima, mekanisme kolaborasi.

Matriks ini dirancang dengan mempertimbangkan kepentingan semua pihak dan fleksibilitas untuk penyesuaian.

Langkah Ketiga: Fasilitasi Komunikasi dan Negosiasi

Analytical Partner memfasilitasi komunikasi dan negosiasi antara pemerintah daerah dan perusahaan.

Analytical Partner menerjemahkan bahasa regulasi pemerintah ke dalam bahasa bisnis perusahaan, dan sebaliknya.

Analytical Partner membantu kedua pihak mencapai kesepakatan yang win-win.

 

Langkah Keempat: Monitoring dan Evaluasi Berkelanjutan

 

Analytical Partner melakukan monitoring dan evaluasi terhadap implementasi CSV.

 

Analytical Partner mengidentifikasi tantangan dan memberikan rekomendasi untuk penyesuaian.

 

Analytical Partner juga memfasilitasi proses penyesuaian matriks kolaborasi jika ada perubahan agenda CSR.

Bagian 9: Integrasi dengan Strategi Pangan Daerah yang Lebih Luas

CSV Sebagai Bagian dari Ekosistem Pangan

CSV bukan strategi yang berdiri sendiri.

 

CSV adalah bagian dari ekosistem pangan daerah yang lebih luas.

 

Untuk memahami bagaimana CSV terintegrasi dengan komponen sistem pangan lainnya, silakan baca Artikel Pilar 1: “Mengapa Daerah dengan Produksi Pangan Melimpah Masih Menghadapi Krisis Gizi yang Tersembunyi”.

 

Artikel Pilar 1 menjelaskan bagaimana sistem pangan terdiri dari berbagai dimensi yang saling terhubung.

 

CSV adalah dimensi yang menghubungkan sektor swasta dengan sistem pangan daerah.

Mengubah Limbah Menjadi Sumber: Strategi Pengurangan Food Waste di Industri HORECA

Untuk informasi lebih lanjut tentang bagaimana mengubah beban biaya sisa makanan (food loss & waste) di industri HORECA menjadi sumber pangan layak, silakan baca Artikel Penjelas 2A: “Mengapa Sisa Makanan di Restoran Bisa Menjadi Solusi Gizi Komunitas?”.

 

Artikel ini membedah taktik operasional efisiensi sampah makanan berdasarkan data konkret dari lapangan.

Menstabilkan Harga, Meningkatkan Pendapatan: Investasi pada Petani Lokal sebagai Strategi CSV

Untuk informasi lebih lanjut tentang pentingnya berinvestasi pada rantai pasok lokal (petani) agar bahan baku korporat aman dari inflasi, silakan baca Artikel Penjelas 2B: “Mengapa Investasi pada Petani Lokal adalah Investasi pada Stabilitas Bisnis Anda?”.

 

Artikel ini membahas pemberdayaan KWT/UMKM di hulu sebagai strategi CSV yang konkret dan terukur.

Kesimpulan: Dari Charity Menuju Creating Shared Value

Paradigma lama adalah charity. Perusahaan memberikan donasi. Program selesai.

 

Paradigma baru adalah Creating Shared Value. Perusahaan dan masyarakat menciptakan nilai bersama-sama.

 

Perusahaan menjalankan operasional dengan cara yang juga menyelesaikan masalah pangan dan gizi di daerah.

 

Dengan pendekatan CSV, penanganan pangan dan gizi bisa lebih efektif dan berkelanjutan.

 

Dengan pendekatan CSV, sektor swasta bisa menjadi mitra strategis dalam pembangunan pangan dan gizi daerah.

 

Namun, untuk mengimplementasikan CSV yang efektif, diperlukan fasilitasi yang komprehensif.

 

Diperlukan pemetaan yang mendalam tentang potensi sektor swasta.

 

Diperlukan matriks kolaborasi yang fleksibel dan dapat disesuaikan.

 

Diperlukan fasilitasi komunikasi dan negosiasi yang efektif.

 

Diperlukan monitoring dan evaluasi yang berkelanjutan.

 

Itulah kekuatan pendekatan Creating Shared Value dalam penanganan pangan dan gizi daerah.

 

Bukan hanya untuk menyelesaikan masalah sosial. Tapi juga untuk menciptakan nilai ekonomi yang berkelanjutan.

 

Semua pihak menang. Perusahaan untung. Masyarakat sehat. Daerah berkembang.

 

Perubahan sistemik memerlukan kolaborasi dari berbagai pihak. Jika Anda percaya pada 

pendekatan Creating Shared Value, bagikan artikel ini kepada tim Anda untuk membangun 

pemahaman bersama tentang bagaimana menciptakan nilai bersama dalam sistem pangan.