Tantangan 1: Ego Sektoral dan Data Silo
Salah satu tantangan terbesar dalam mengimplementasikan Peta FSVA adalah ego sektoral.
Setiap dinas memiliki data sendiri. Dinas Pertanian memiliki data produksi pangan. Dinas Kesehatan memiliki data status gizi. Dinas PUPR memiliki data infrastruktur air bersih.
Namun, setiap dinas cenderung hanya melihat data miliknya sendiri. Data silo.
Akibatnya, program-program dari berbagai dinas berjalan sendiri-sendiri.
Program Dinas Pertanian meningkatkan produksi pangan, namun tidak mengatasi masalah akses air bersih. Program Dinas Kesehatan meningkatkan status gizi, namun tidak mengatasi masalah akses pangan.
Hasilnya adalah pemborosan anggaran yang sistemik.
Untuk mengatasi ego sektoral ini, diperlukan Peta FSVA yang terintegrasi.
Peta FSVA yang menampilkan data dari semua dinas dalam satu visualisasi.
Dengan Peta FSVA yang terintegrasi, setiap dinas dapat melihat gambaran lengkap tentang masalah ketahanan pangan. Setiap dinas dapat memahami bagaimana program mereka berkontribusi pada peningkatan ketahanan pangan secara keseluruhan.
Untuk informasi lebih lanjut tentang pentingnya membuang data silo dan mengadopsi analisis sistemik, silakan baca Artikel Pilar 1: “Mengapa Daerah dengan Produksi Pangan Melimpah Masih Menghadapi Krisis Gizi yang Tersembunyi”.
Cara Anda Menyimak Stuka Episode 1 Bagian 1
untuk mempercepat pemahaman Anda, kami mendesain materi Stuka bisa Anda simak sampai selesai dalam versi video dan audio.
Kami merekam Stuka beserta slide, jika Anda ingin simak Lope dalam versi video.
Anda bisa simak Stuka versi video via Youtube, sebagaimana yang kami lampirkan di bawah.
Jika Anda ingin simak Stuka sambil melakukan aktivitas lain, seperti memasak, menyetir, membersihkan rumah, dan semisal, maka Anda bisa simak via audio.
Anda bisa simak Stuka versi audio via spotify, sebagaimana yang kami lampirkan tombolnya di bawah.
**
Anda boleh membagikan halaman ini kepada orang yang sepertinya membutuhkan materi ini.
Semoga bermanfaat 🙂
Stuka Versi Video
Stuka Versi Audio
Bagian 4: Tantangan Praktis dalam Mengimplementasikan Peta FSVA
Tantangan 2: Kompleksitas Teknis dan Keterbatasan Kapasitas Daerah
Tantangan kedua adalah kompleksitas teknis.
Membuat Peta FSVA bukan pekerjaan yang sederhana. Peta FSVA memerlukan pengumpulan data dari berbagai sumber, harmonisasi data, perhitungan indikator, dan visualisasi spasial.
Semua ini melibatkan jutaan sel data dan perhitungan statistik yang kompleks.
Melakukan perhitungan secara manual akan memakan waktu berbulan-bulan.
Tidak semua daerah memiliki kapasitas untuk melakukan perhitungan ini. Tim daerah mungkin tidak memiliki keahlian statistik yang diperlukan. Daerah mungkin tidak memiliki tools analisis data yang canggih.
Itulah mengapa banyak daerah tidak membuat Peta FSVA.
Atau, jika membuat, Peta FSVA itu hanya menjadi lampiran laporan yang tidak pernah digunakan untuk pengambilan keputusan.
Tantangan 3: Biaya Tersembunyi dari Keputusan yang Tidak Tepat Sasaran
Namun, biaya tersembunyi dari kebiasaan mengabaikan Peta FSVA adalah miliaran APBD yang hilang.
Ketika keputusan alokasi anggaran tidak didasarkan pada Peta FSVA, hasilnya adalah:
- Desa-desa yang paling membutuhkan tidak mendapat bantuan yang cukup
- Desa-desa yang sudah tahan pangan mendapat bantuan yang berlebihan
- Program intervensi tidak tepat sasaran
- Dampak program minimal
- Anggaran terbuang sia-sia
Bayangkan sebuah daerah dengan APBD Rp 100 miliar untuk program ketahanan pangan.
Jika 30 persen dari anggaran itu terbuang sia-sia karena keputusan yang tidak tepat sasaran, itu berarti Rp 30 miliar hilang begitu saja.
Rp 30 miliar itu bisa digunakan untuk membangun saluran air bersih di 100 desa. Rp 30 miliar itu bisa digunakan untuk program pelatihan keterampilan di 1.000 kelurahan. Rp 30 miliar itu bisa menyelamatkan ribuan anak dari stunting.
Namun, karena keputusan tidak tepat sasaran, Rp 30 miliar itu hilang begitu saja.